Berita ini
Telah dibaca: 8431Biogas dari Limbah Tahu
Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek percontohan mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk industri tahu kecil di dua kawasan sentra industri kecil tahu di Purwokerto, yakni di Desa Kalisari dan dusun Ciroyom.
Mengapa industri tahu? Asisten Deputi Analisis Kebutuhan Iptek pada Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Ristek Eddy Prihantoro mengatakan, industri tahu merupakan ternyata salah satu industri penyumbang emisi yang signifikan.
Jumlah industri tahu di Indonesia mencapai 84.000 unit usaha. Dengan kapasitas produksi lebih dari 2,56 juta ton per tahun, industri tahu ini memproduksi limbah cair sebanyak 20 juta meter kubik per tahun dan menghasilkan emisi sekitar 1 juta ton CO2 ekivalen. Sebanyak 80 persen industri tahu berada di Pulau Jawa. Dengan demikian emisi yang dikeluarkan pabrik tahu di Jawa mencapai 0,8 juta ton CO2 ekivalen.
Unit pengolahan limbah cair tahu yang dikembangkan dan dipasang di Desa Kalisari dan Dusun Ciroyom menggunakan model Fixed Bed Reactor dan dibangun dengan sistem anerobik. Pertimbangannya, sistem ini tidak memerlukan lahan yang besar dan tidak membutuhkan energi untuk aerasi.
Keuntungan lain dari sistem ini adalah dalam prosesnya menghasilkan energi dalam bentuk biogas dan ampas dan air untuk makanan ikan dan ternak lain. Selain itu, prosesnya lebih stabil dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit.
Unit pengolah limbah cair tahu ini terdiri dari unit utama yang disebut digester, jaringan pipa pengumpul limbah, penampung gas, trickling filter, jaringan sisa limbah hasil olahan, kolam penampung air hasil proses.
Unit utama atau reaktor yang dipasang di Desa Kalisari memiliki volume sebesar 21 meter kubik atau setara dengan 1.200 kg kedelai/hari (untuk 20 pengrajin tahu), sementara di Dusun Ciroyom sebesar 5 meter kubik atau setara dengan 300 kg kedelai/hari (untuk lima pengrajin tahu).
Limbah cair tahu masih mengandung bahan-bahan organik yang mengandung nutrisi yang cukup baik untuk pertumbuhan bakteri metanogenik. Adanya bakteri metanogenik di dalam reaktir dapat menyebabkan terjadinya proses metanogenesis yang dapat menghasilkan gas metana. Gas metana yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global
Menernakan mikroba anaerob dapat menyebabkan terjadinya proses metanogenesis dan mendegerasi COD, TSS adalah langkah awal dalam membangun bioreaktor.
Untuk itu, reaktor terlebih dulu diisi oleh kotoran sapi untuk memperbanyak bakteri atau mikroba anaerob. Selain itu reaktor juga diisi oleh potongan bambu sepanjang 5-10 cm, sebagai ‘rumah’ bagi mikroba. Proses ini dilakukan selama dua hingga tiga bulan.
Langkah awal itu menjadi penentu keberhasilan IPAL di Desa Kalisari dan Dusun Ciroyom. Kedua IPAL ini mampu mendegenerasi nilai COD hingga 85 persen sehingga air hasil olahan dapat menjadi pakan ikan dan ternak lain. Selain itu dengan mengolah limbah cair sebanyak 5 meterkubik per hari, IPAL juga menghasilkan gas metan yang dapat digunakan untuk keperluan memasak 21 rumahtangga per hari.
Untuk menggunakan biogas hasil olahan limbah cair tahu, tak perlu kompor khusus. Cukup menggunakan kompor yang ada di pasaran dengan sedikit modifikasi, yakni mencabut spuyer, kompoenen yang berfungsi mengatur tekanan gas. Hal ini karena gas metan sudah bertekanan rendah, tak seperti LPG yang bertekanan tinggi.
Untuk mengelola biogas tersebut, para pengrajin tahu membentuk kelompok. Kelompok inilah yang mengelola dan memelihara unit IPAL. Para anggota yang menikmati biogas memberikan iuran Rp10.000 per bulan untuk biaya perawatan IPAL. Dengan menggunakan biogas tersebut, para pengrajin tahu dapat melakukan berhemat biaya bahan bakar. Menurut Kamilah, salah seorang pengajin tahu, sebelum memakai biogas, ia biasa menggunakan kayu bakar seharga Rp400 ribu (sebanyak satu truk kecil) untuk keperluan produksi tahu dan memasak selama 6 hari, setelah menggunakan biogas, kayu bakar bisa digunakan hingga 8 hari.
Selain membuat unit percontohan pengolahan limbah cair tahu, program mitigasi Kementerian Ristek juga melakukan kegiatan efisiensi energi. Kegiatan ini diwujudkan dengan memodifikasi tungku yang digunakan untuk merebus kedelai.
Eddy berharap prototip IPAL yang dikembangkan Kementerian Ristek di Desa Kalisari dan Desa Ciroyom ini dapat direplikasi oleh Pemkab Banyumas untuk sentra-sentra industri tahu lainnya di wilayah itu dan juga oleh pemerintah daerah lainnya di Indonesia.
KLIBS Usung Anastesi Lokal untuk Bantu Orang Miskin
Dunia kedokteran sudah lama mengenal anastesi lokal atau bius lokal. Namun penerapan bius... Read moreImplikasi Lingkungan Akibat Pengembangan Jakarta
Banjir musiman di Jakarta dapat diestimasikan terjadi pada setiap awal tahun dan akhir tahun. Banyak... Read moreAdiseno PhD
Adiseno PhD Bandung, 14 November 1967Bidang Keilmuan : MIPA Kimia Elektronika Adiseno memperoleh... Read moreNoer Laily, Dra. Msi
Usia muda tidak berarti sedikit berkarya. Dra Noer Laily, Msi mampu membuktikan di usianya yang... Read moreKris Tri Basuki,Prof .Dr
Dua jenjang pendidikan tinggi sebelumnya, Sarjana Muda maupun Sarjana, yang ditekuni Kris, di... Read moreTahun ini Musim Kemarau Hanya Dua Bulan
Musim kemarau pada tahun ini mengalami pergesaran atau kemunduran. Untuk wilayah Sumatera, Sulawesi... Read moreAmin Santosa Zarkasi, M.Sc, Ph.D.
Amin Santosa Zarkasi, M.Sc, Ph.D Kebumen, 17 Desember 1953 Bidang Keilmuan : MIPA Fisika Fisika At... Read morePengumuman Pemenang Lomba Penulisan Iptek
Sejak diumumkan hingga tanggal 30 Juli 2010 yang merupakan batas akhir penulisan dan pengiriman... Read moreMenristek: SINas Iptek Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Menristek Suharna Surapranata menegaskan bahwa pembentukan Sistem Inovasi Nasional (SINas) tidak... Read moreAsep Karsidi Jabat Kepala Bakosurtanal
Menristek Suharna Surapranata hari ini melantik Dr. Asep Karsidi sebagai Kepala Badan Koordinasi... Read morePacu Inovasi, Kementerian Ristek Bangun Strategi Kebersamaan
Sebagai upaya mensinergikan antara sisi penyedia dan sisi pengguna Iptek, Kementerian Riset dan... Read moreDeteksi Jantung Melalui Treadmill Test
Jakarta : Treadmill test hingga kini kerap diabaikan dalam proses medical check up penyakit jantung ... Read moreGunung Gede-Pangrango Tempat Hidup 600 Macan Tutul
Cipanas, 23/2 - Masih berkeliaran sekitar 600 macan tutul (Panthera pardus) di Taman Nasional... Read moreLomba Komik Energi Baru dan Terbarukan
LOMBA KOMIKMENGEMBANGKAN DAN MENERAPKAN ENERGI BARU DAN TERBARUKANEnergi dan listrik merupakan... Read moreBiogas dari Limbah Tahu
Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Pengendalian Dampak Perubahan Iklim membuat proyek... Read moreMapiptek Gelar Pelatihan Penulisan di 8 Universitas
Menulis karya ilmiah populer saat ini menjadi kebutuhan dan tuntutan kalangan akademisi. Banyak... Read morePengumuman Pemenang Lomba Karya Tulis Kota Ramah Lingkungan
Sebagai realisasi kampanye ”Go Green”, Mal Ciputra Jakarta telah menyelenggarakan lomba artikel... Read moreSiswa SD se-Jabodetabek Kunjungi PP IPTEK
Jakarta : Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) menjadi bagian program acara ”Ayo Ke Museum Bersama Ibu... Read moreMinat Menulis Mahasiswa Minim
Ketua Program Mapiptek Edy Kuscahyanto menyayangkan kurangnya peminat mahasiswa dalam penulisan... Read moreDekan FT Undip Bambang Pudjianto : Menulis Sama Artinya dengan Membaca dan Memahami
Menulis limiah harus ditunjang dengan membaca dan memahami berbagai hal, kata Dekan Fakultas Teknik... Read moreImlek Tak Selamanya Diwarnai Hujan Lebat
Imlek yang jatuh tepat pada Kamis, 3 Februari 2011, hanya sebagian kecil wilayah di Idnonesia yang... Read moreKomentar Terbaru
Habis BBM, Terbitlah EBT
kami mahasiswa teknik mesin Universitas BUng Karno... More...
03.02.13 03:11
By
LIPI Ubah Air Banjir Jadi Air ...
Gimana caranya mendapatkan alat tsb ? Apa ada di p... More...
21.01.13 22:14
By
Gempur Terigu dengan Makaroni ...
salam kenal... selamat atas penemuannya... smg ber... More...
25.11.12 00:22
By




















